Opening :
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Annyeonghaseyo!!
Ohayo, Konnichiwa, dan konbanwa.
Selamat pagi, siang, dan malam.
Gud mornin’, gud day, n gud nite.
Pertama-tama saya ucapkan banyak terimakasih kepada Allah SWT. karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah saya dapat menyelesaikan ff oneshoot gaje ini. Hahaha
Kedua saya ucapkan terimakasih kepada Mas Iman—tukang service leptop disebelah rumah—karena atas jasanya leptop saya bisa baik *tapi kok menurutku jadi tambah sedeng?* sehingga ff ini dapat diketik di leptop yang udah keluar-masuk dari rumah sakitnya udah ngga terhitung lagi.
Ketiga buat para readers yang nanti bersedia membaca, meng-like, dan mengomentarin ff saya ini. (udah ah, openingx aja kepanjangan, apalagi crtax)
WARNING!!
1. Harap dibaca sampai habis, karena bagian endinglah yang sangat menentukan. Hahaha
2. Anak usia dibawah 10 tahun dilarang membaca. (mang ada apaan?)
3. NO SILENT READERS
4. Karena saya sudah bilang No SILENT READERS, artinya anda harus membaca, meng- like, dan mengomentarin ff ini.
5. Ikutilah persyaratan yang sudah ditentukan.
Cast :
Me as Choi Hae Rin
Me as Choi Min Hye
Choi Seung Hyun aka TOP
Choi Min Ho
Dong Young Bae aka Taeyang
Dindin as Park Yun Mi
Kim Jun Su aka Choi Jun Su
Kim Jaejoong
******
The Unknown Fact
__________________________________________________________________
~~TOP~~
Aku tengah membaca buku didalam kelas saat pelajaran tengah berlangsung, tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi.
”Choi Seung Hyun, Choi Hae Rin, Choi Min Ho, Dong young bae, dan Park Yun Mi, kalian dalam kelompok lima. Tugas harus dikumpulkan bulan depan!!” Aku terlonjak kaget mendengar suara sonsaeng menyebutkan nama-nama yang termasuk dalam kelompok lima, bukan suara sonsaeng yang besar membosankan itu yang mengejutkanku, tapi salah satu nama yabg disebutkan dalam pernyataannya barusan. Bagaimana bisa aku harus satu kelompok dengannya?
Hubunganku dengan gadis itu telah menjadi sebuah rahasia umum, bahkan diseantero SMA kami pun, mengetahui dengan sangat jelas bahwa aku dan Dia tidak pernah akur bagaikan anjing dan kucing, Dia anjingnya dan aku kucingnya?? Aku juga bingung mengapa hubungankami bisa seperti ini, entah apa penyebabnya. Dia bisa berteman dengan siapa saja, tetapi kenapa tidak denganku? Apa salahku sehingga Dia selalu menjauh dariku dan selalu mengata-ngataiku? Aku juga tidak tahu. Dia bersikap seperti itu sejak pertama kali kami bertemu, tepatnya saat dikelas X.
Karena sikap dan sifatnya yang tidak bersahabat, aku pun bertindak seperti apa yang Dia lakukan padaku. Yah, bisa dibilang seperti air yang mengalirlah. Kami selalu bersaing dikelas maupun diluar kelas, atau bahkan dimana saja. Kami selalu bersaing untuk memperebutkan peringkat terbaik dalam hal apapun!! Baik dalam akademik maupun non-akademik.
“Maaf, sonsaengnim. Saya tidak mau berkelompok dengan orang semacam Seung Hyun.” Katanya sambil menatapku sinis.
“Heh, apa maksudmu? Kau pikir aku juga mau satu kelompok dengan gadis aneh sepertimu?” balasku.
“Apa kau bilang? Gadis aneh? Kau kira kau siapa bisa mengataiku gadis aneh, kamu tuh yang aneh!”
“Siapa aku? Hahahaha, kamu ngga tau siapa aku? Aku Choi Seung Hyun, arasseo, silly girl?” aku tertawa kearahnya. Selama hampir dua tahun kami bersama Dia masih saja tidak tau aku ini siapa?Yang benar saja?
“Siapa juga yang bertanya namamu? Ngga penting banget tau ngga? Dasar idiot!!!” baru saja aku akan membalas ucapannya barusan, tapi sonsaengnim mengeluarkan suaranya duluan.
“Heh, kalian berdua!! Tidak bisakah kalian menghentikan perdebatan tidak penting yang hanya menghabis-habiskan waktu saya? Saya tekankan KEPUTUSAN SAYA TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT!! Arasseo?!” bentak sonsaeng.
“Tapi, Pak, Sebaiknya Dia yang dipindah kekelompok lainnya, atau saya saja yang akan pindah?” Dia masih tidak menerima keputusan sonsaengnim.
“Sebaiknya saya saja yang pindah, Pak. Saya tidak mau didalam kelompok saya ada yang tidak menerima saya.”
“Sudah, Choi Seung Hyun, Choi Hae Rin. Jangan membantah. Sekali lagi saya tegaskan KEPUTUSAN SAYA TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT!!” Akhirnya aku menyerah dan kembali duduk dibangkuku. Dari sudut mataku, aku melihat sonsaengnim itu berjalan meninggalkan ruang kelas kami dan Dia juga menunjukkan ekspresi tidak suka akan keputusan sonsaengnim tadi. Aku pun melanjutkan acara baca bukuku yang sempat tertunda tadi.
~~Rin-rin~~
“Huffftt~” Aku menghembuskan nafas setelah kembali duduk. Aku benar-benar kesal!! Rasanya aku harus mencari tempat pelampiasan kekesalanku hari ini. Tanpa butuh waktu yang lama aku telah berhasil menemukan seseorang yang dapat membantuku menghilangkan kekesalanku dia berjalan melewati tempat dudukku yang persis berada sebelum pintu keluar dari kelas .
“Yaa!! Min Ho-ah!! Sini kau!!” panggilku saat dia sudah tepat berada didepan pintu, dia menoleh kearahku.
“Apa?” tanyanya berlagak galak yang kurasa tidak cocok sekali dengan wajahnya yang cute itu. . Hahaha, Min Ho ini adalah salah seorang sahabatku. Andai saja dia bukan sahabatku pasti aku sudah jatuh cinta padanya sejak tiga tahun yang lalu. Tapi anehnya, meskipun dia tampan aku sama sekali tidak pernah tertarik padanya.Tapi, jangan pikir kalau aku tidak normal ya? I’m normal baby!! Buktinya sewaktu aku masih SMP kelas 2 aku mempunyai seorang pacar yang bernama Jaejoong dan setelah kelulusan kami masih berhubungan. Tapi, akhirnya kami mengakhiri hubungan kami karena kami tidak dapat terus-menerus berhubungan jarak jauh. Sekarang dia bersekolah di Tokyo.
“Main bola yok!!” ajakku.
“Hahaha, ayok!!” ekspresinya langsung berubah. Kemudian kami berjalan beriringan menuju lapangan bola sambil memegangi bola yang akan kami mainkan. Lapangan yang semula ramai dipenuhi siswa-siswa yang lainnya yang juga memakai untuk bermain bola, langsung menyingkir ketika melihat kedatanganku. Ya, mungkin dikarenakan aku seorang ketua OSIS yang sedang melempar-lemparkan bola keudara kemudian menangkapnya lagi dan seakan-akan aku akan segera melemparkan bola itu tepat ke arah wajah orang yang berani menghalangiku bermain. Padahal tidak, aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba mereka menyingkir. Yah, tapi tak usah dipikirkanlah, yang penting nyaman!! Akhirnya hanya aku dan Min Ho yang bermain dilapangan sebesar ini. Kami hanya melakukan pinalty.
“Hush!! Sana, kau jaga saja!!” aku menyuruhnya menjadi penjaga gawang. Ya karena memang itulah keahliannya dan aku juga tidak berminat sedikitpun untuk menjadi penjaga gawang. Kemudian dia mengambil posisi didepan gawang. Aku menembakkan bola kearah gawang beberapa kali tapi berhasil dialihkannya. Kemudian aku mengambil ancang-ancang untuk menembaknya dengan mengeluarkan seluruh kemampuan dan seluruh kekesalanku hari ini. Tapi sayang, bola membentur mister gawang, kemudian memantul kesuatu arah dan dengan sempurna mendarat diwajah seseorang yang sedang berjalan membawa buku. Seketika itu juga buku-buku yang dipegang orang itu berjatuhan. Dia kemudian langsung memungut-munguti bukunya yang jatuh dan segera menoleh kearah lapangan bola untuk mengetahui siapa tersangka dari tindakan barusan. Saat orang itu menoleh hidung orang itu berdarah dan ternyata orang itu adalah CHOI SEUNG HYUN si idiot!!!
Setelah menyadari bahwa orang itu adalah Choi Seung Hyun, aku segera membuang muka seakan tidak perduli dengan apa yang terjadi. Yah memang begitulah kenyataannya, aku memang tidak perduli dan tidak akan pernah perduli padanya!! Kemudian aku berlalu meninggalkan lapangan bola dan kembali kekelas. Sebelum kembali, aku sempat melihat Min Ho yang ternganga lebar dengan memasang tampangnya yang aneh itu. Hahaha, lucu sekali.
~~TOP~~
Saat aku berjalan dipinggir lapangan bola sambil membawa buku-buku yang baru saja ingin kukembalikan keperpustakaan, suatu benda yang berbentuk bulat langsung menghantam wajahku. Aku yang kaget, refleks saja menjatuhkan buku-buku yang kubawa. Aku merasakan ada sesuatu yang mengalir dibagian atas bibirku tepatnya dibagian bawah hidung, tapi aku tidak mengindahkannya. Aku langsung memunguti buku-buku itu. Saat aku menunduk untuk mengambil buku-buku itu, sesuatu yang berwarna merah menetes kebawah. Darah? pikirku. Aku langsung mempercepat gerakanku dan langsung mengalihkan pandanganku ke arah lapangan bola berusaha mencari sosok yang telah melakukan ini semua padaku.
Seorang yeoja tengah berdiri dengan santainya dengan menatap kearahku, dan aku menyadari bahwa dialah sosok yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya ini. Tapi, dia langsung membuang muka. Aku yang tak mau ambil pusing langsung bergegas keperpustakaan karena waktu istirahat akan segera berakhir. Aku membersihkan darah yang mengalir dari hidungku dengan lengan seragamku. Setelah aku mengembalikan buku, aku kembali kekelas.
Di dalam kelas, aku mendapati si gadis aneh itu. Dia sedang menegak sebotol air mineral. Aku pun mendatanginya dengan emosi-emosi yang membara.
“Yaa!! Kau gadis aneh!!!” bentakku sambil memukul mejanya sehingga mengeluarkan bunyi yang keras dan otomatis semua mata yang ada didalam kelas melihat ke arah kami. Sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi lagi, gadis itu tersedak dan menyemburkan minuman dari mulutnya tepat kemukaku.
“Haiissshh!! Kau__” Kataku geram.
“Apa hah? Kau mau apa? Salah siapa mengejutkan orang yang lagi minum? Dasar Idiot!!” Malah dia yang marah-marah padaku.
“Heh!! Gadis aneh!! Seharusnya aku yang membentakmu karena kau telah membuat hidungku berdarah karena bolamu itu.”
“Hah? Itu salahmu!! Siapa suruh kau tidak menghindar?”
“Kau!!” aku naik keatas mejanya. Dan menatap wajahnya. Dia terlihat terkejut tapi kemudian memasang senyum yang menurutku aneh.
“Mau apa kau hah?” tanyanya mendekatkan wajah ke wajahku.
“Yaaa!! Seung Hyun-ah!! Sedang apa kau? Cepat keluar dari jam pelajaran saya!!” Suara yang tidak asing lagi ditelingaku menggema diseluruh ruang kelas.
“Tunggu apa lagi? Cepat keluar!!” Tak kusadari ternyata dari tadi aku masih berjongkok diatas meja gadis aneh itu, aku pun segera turun dan keluar dari kelas. Sebelum aku keluar si gadis aneh itu sempat berbisik, “Mampus!!”
~~Rin-rin~~
Orang idiot itu keluar dari kelas karena diusir oleh Ki Bum sonsaengnim sang guru sejarah yang killernya minta ampun itu. Aku tak perduli dan tidak akan pernah mau perduli dengan apapun yang dilakukan orang idiot itu setelah apa yang dilakukan nunanya kepada oppaku. Aku sangat membenci mereka!!
Oppaku menjadi cacat karena berusaha bunuh diri akibat melihat nunanya orang idiot itu berciuman dengan seorang namja. Sampai sekarang aku masih tidak tahu apakah oppaku mengenal adik dari mantan kekasihnya itu yang sekarang menjadi teman sekelasku, eh engga deng, maksudku musuh besarku!!
Oppaku yang baik, yang menyayangiku, yang selalu menjagaku sejak orang tua kami tiada sekitar 5 tahun yang lalu sekarang hanya bisa berdiam diri diatas kursi rodanya sejak kejadian 2 tahun yang lalu. Untung saja usahanya itu bisa digagalkan karena ada seorang namja yang menolongnya. Orang itu langsung menghubungiku dan membiayai semua dana yang seharusnya ditanggung olehku. Orang itu langsung pergi setelah melakukan semua itu, tanpa sempat aku berterima kasih kepadanya.
~~Pov end~~
**Flash Back**
2 years ago
Junsu keluar dari sebuah toko bunga dengan membawa sebucket bunga mawar putih ditangannya, dengan maksud memberi kejutan kepada kekasihnya yang berulangtahun pada hari itu. Dia juga telah menyiapkan sepasang cincin untuk melamar kekasihnya itu.
Junsu berjalan menuju universitas tempat kekasihnya berkuliah. Saat melewati taman disekitar kampusnya, Junsu melihat sosok Min Hye—kekasihnya-- dan berniat untuk menghampirinya, tapi tidak jadi karena Min Hye tidak hanya sendiri. Junsu berdiri mematung menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kekasihnya berciuman dengan namja lain!! Bunga yang ada digenggamannya kemudian dia hempaskan ketanah dan menginjak-injaknya. Dia segera berlari kejalan raya dan dia mendapati sebuah truk melaju kencang, tanpa berpikir panjang Junsu segera berlari kedepan truk itu agar segera merenggut nyawanya.
****
Seung Hyun keluar dari sebuah kedai makanan berniat untuk menjemput nunanya yang berulangtahun, tapi dia mendapati seorang namja tengah berlari ke arah sebuah truk yang melaju kencang. Tanpa pikir panjang, Seung Hyun berusaha mengejar namja yang sepertinya berusaha untuk menabrakkan dirinya itu. Seung Hyun mendorong tubuh namja itu dan akhirnya mereka tidak tertabrak oleh truk itu.
Seung Hyun melihat kearah namja yang ia tolong, kepala namja itu berdarah mungkin terbentur oleh pinggiran trotoar. Seung Hyun segera membawa namja itu kerumah sakit terdekat. Sesampainya dirumah sakit, Seung Hyun langsung menghubungi salah satu kontak panggilan keluar terakhir yang ada dilayar ponsel namja itu yang bertuliskan ‘Dongsaeng-ku’. Setelah menghubunginya, Seung Hyun berbicara kepada seorang suster, “Sus, semua biaya biar saya yang menanggung, appa juga pasti tidak akan keberatan.” Setelah berkata seperti itu Seung Hyun pergi entah kemana.
****
Hae Rin segera menuju kerumah sakit setelah mendapat telpon dari seseorang yang mengabarkan bahwa oppanya ada dirumah sakit. Sesampainya didepan ruangan yang sebelumnya telah diberitahukan sipenelpon, seorang dokter datang menghampirinya.
“Apa kau keluarga dari pasien yang ada didalam?”
“Ne, Sebenarnya apa yang terjadi pada Junsu oppa, dok?”
“Sebaiknya kita bicarakan hal ini di ruangan saya saja” Kemudian mereka berjalan menuju ruangan dokter tersebut.
“Apa yang terjadi, dok?” tanya Hae Rin cemas.
“Menurut informasi yang saya dapat dari orang yang membawanya kemari, oppa mu ini berusaha bunuh diri dengan cara menabrakkan tubuhnya ke truk yang sedang melaju kencang.” Dokter menghentikan perkataanya sebentar.
“Oppamu tidak jadi mati karena telah ditolong oleh orang yang membawanya kemari, Tapi__” Dokter menggantung kalimatnya.
“Tapi apa, dok?” tanya Hae Rin ketakutan.
“Tapi kepalanya membentur trotoar disisi jalan.”
“Apa dia amnesia, dok?”
“Tidak, dia tidak amnesia. Tapi, lebih parah daripada itu. Beberapa sistem sarafnya ada yang terganggu dan menyebabkan dia tidak dapat berjalan. *mangnya ada penyakit yang kek gitu? Ada kan aja gin. Hahaha. Apa pun yang terjadi, semua berdasarkan hak sang Author. Hihi*” Air mata Hae Rin langsung tumpah mendengar pernyataan dari dokter.
“Apa aku bisa menemuinya sekarang?” tanya Hae Rin setelah sedikit agak tenang. Dokter pun mengangguk. Mereka kembali ke ruang rawat Junsu. Kepala oppanya dibalut dengan perban. Hae Rin duduk disebuah kursi yang ada disamping ranjang pasien.
“Oppa.” Panggil Hae Rin pelan. Hae Rin terisak pelan disamping tubuh oppanya.Tak lama kemudian tangan Junsu bergerak-gerak dan matanya terbuka secara perlahan.
“Oppa!!” seru Hae Rin.
“Dongsaeng, kenapa aku bisa disini?” tanya Junsu ketika matanya sudah terbuka penuh dan menyadari dia sedang terbaring diranjang rumah sakit.
“Kau berusaha bunuh diri oppa tapi ada orang yang menolongmu dan membawamu kesini, sebenarnya apa yang terjadi?” Junsu kembali mengingat kejadian itu dan menceritakannya kepada adiknya.
“Kau tahu Min Hye?”
“Ne, bukankah dia yeoja chingumu?”
“Ya, tapi tadi aku melihat dia berciuman dengan namja lain saat aku akan menjemputnya, lalu aku tidak ingat apa-apalagi setelah kejadian itu dan tiba-tiba saja aku ada disini. Oh ya, aku ingat sebelum aku kesini aku ditolong oleh seorang namja dan Aku masih ingat wajah namja yang menolongku itu.” Hae Rin yang mendengarnya seakan tidak percaya. Bagaimana bisa, Min Hye,kekasih oppanya itu tega berbuat seperti itu kepada oppanya yang begitu tulus mencintainya. Mulai saat itu juga Hae Rin mulai membenci Choi Min Hye. Mereka terdiam beberapa saat.
“Hae Rin, Ayo kita keluar. Aku tidak tahan kalau hanya terus berbaring diranjang rumah sakit yang keras ini.” Hae Rin yang mendengar permintaan oppanya itu terkejut dan terlihat sedih. Mana mungkin oppanya bisa jalan keluar kalau dia lumpuh.
“Oppa, kau masih belum sehat.” Hae Rin takut akan apa yang akan dirasakan oppanya jika oppanya itu mengetahui bahwa dia lumpuh. Junsu berusaha bangkit dari ranjang untuk berdiri, tapi___
“Arrrrggghhh!!!” Junsu terjatuh, Hae Rin langsung membantunya berbaring kembali diranjang.
“Kenapa?” Tanya oppanya. Hae Rin diam tak menjawab dia masih takut.
“Kenapa aku tidak merasakan kakiku?” lanjut Junsu tidak puas dengan pertanyaannya yang tak terjawab. Lalu Hae Rin menceritakan semuanya. Seminggu setelah dirawat dirumah sakit, Junsu diperbolehkan pulang. KIni dia menggunakan kursi roda, dan dia memutuskan untuk menghentikan kuliahnya karena keadaanya ini. Beberapa hari sebelum dia keluar dari rumah sakit, Min Hye menemuinya dan langsung meminta putus pada Junsu ketika tahu bahwa sekarang Junsu cacat!! Untung saja Junsu tetap tabah, meski terkadang ia sering mengutuk kondisinya. Sejak saat itu, Hae Rin mulai mencari pekerjaan untuk menghidupi kehidupan mereka berdua.
**Flash Back_end**
~~Back To Rin-rin Pov~~
Setelah jam pelajaran Ki Bum sonsaengnim berakhir, Orang idiot yang idiotnya melebihi hakime komaru *Selamat bagi readers yang kenal dengannya* langsung masuk kekelas dan menatapku tajam (setajam pedang). Satu detik kemudian sederet kata-kata meluncur dengan lancar dari mulutnya. Aku tidak dapat menangkap kata-katanya itu (iyalah!! Mana bias kata-kata ditangkap. Lo pikir bola?)
“Yaa!! Gadis aneh!! Kau dengar tidak?” Hanya kalimat itu yang dapat kutangkap.
“Dasar kau orang idiot!! Kau pikir aku mau mendengarkan ocehan-ocehan tak penting milikmu itu?” balasku sengit.
“Hyaaa~! Tak ada gunanya bicara denganmu, hanya tambah memperburuk keadaan saja!!”
“Kau pikir siapa yang memperburuk keadaan, hah? Kau!!”
“Apa? Aku? Justru kau!!”
“Hei, hei. Sudahlah kalian ini. Hentikan!!” Yun Mi yang ternyata sedari tadi masih ada disebelahku berusaha mengakhiri perdebatan kami. “Jadi, bagaimana dengan tugas kelompok kita? Kapan dan dimana kita akan mengerjakannya?” lanjutnya
“Bagaimana kalau dirumahku saja?” tiba-tiba Min Ho dan Taeyang—panggilan Young bae—datang menghampiri kami.
“Jadi, bagaimana kalau kita mengerjakannya di rumahku saja?” tawar Min Ho lagi. Aku, Taeyang, dan Yun Mi langsung mengiyakan.
“Bagaimana Seung Hyun-ah? Apa kau bisa?” Tanya Min Ho.
“Yayaya. Baiklah. Kapan?”
“Besok jam 4, ya!!”
*****
~~Keesokan harinya_ 4 pm.
“Oppa, aku duluan ya. Annyeong” Kataku berpamitan pada Junsu oppa. Aku langsung melajukan sepeda motorku kerumah Min Ho karena aku hampir telat. Gara-gara dugaanku salah, kalau mengira hari ini pelanggan dirumah makan tempatku bekerja akan sepi. Dan jadilah aku terlambat, mana aku harus mengambil barang yang tertinggal terlebih dulu. Dan jadilah begini, Aku melajukan motorku seperti orang kesetanan. Untung saja aku sudah ahli salip sana salip sini. Hihihihihihi..
Setelah sampai didepan rumah Min Ho yang berjarak kurang lebih 8 km dari rumahku (biasanya sih memakan waktu 20 menit, berhubung aku tadi ngebut jadi hanya 12 menit saja. Hahaha) Aku langsung melihat jam tangan berwarna kuning yang kukenakan (ngga penting banget) pukul empat lewat 5 menit. Huaa~ Aku terlambat, semoga masih ada yang lebih lambat dariku. Dan ternyata, dugaanku lagi-lagi terpeleset, eh salah meleset deng. Hehe. Semuanya sudah lengkap berkumpul dan mulai mendiskusikan sesuatu sambil menyatatnya.
“Mian, aku telat.”
“Gwenchana, ayo duduk dan kita mulai.” Baru saja aku mau duduk, aku langsung dikagetkan oleh sebuah suara yang sangat-sangat kubenci.
“Eh kau, gadis aneh!! Bisa-bisanya kau telat! Kau tahu kau sudah terlambat sekian lama, hah? Lima menit! Tak tahukah kau betapa berharganya lima menit itu?” Orang idiot itu langsung menceramahiku panjang lebar. Tapi aku cuek bebek saja dan langsung duduk. Aku sedang tidak mood berdebat.
“Sudahlah Seung Hyun-ah. Mungkin dia terlambat karena dia sibuk.” Kata Min Ho.
“Hah? Sibuk? Bagaimana bisa orang sepertinya sibuk? Sibuk kesalon?” Tanya Orang idiot itu lagi dengan nada sinis.
“Dia sibuk bekerja, Seung Hyun-ah. Dia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya bersama dengan oppanya.” Kali ini Yun Mi yang menjelaskan. Oh baby, orang idiot seperti dia tidak perlu tahu kehidupanku.
“Kenapa bukan oppanya saja yang bekerja? Oppanya kan laki-laki?” Oh god!! Aku tidak mau mendengarnya!!
“Oppanya tidak dapat bekerja, oppanya lumpuh” jawab Min Ho dan sedetik kemudian langsung menyesali ucapannya ketika menyadari perubahan wajahku. Seketika itu keadaan langsung sunyi senyap, yang terdengar hanyalah bunyi pulpen-pulpen yang ditorehkan pada kertas putih untuk menulis.
“Hae Rin, Mianhaeyo” ucap orang idiot itu memecah keheningan.
“Ne, gwenchana. Lupakan saja.” Setelah aku mengucapkan kalimat itu, suasana kembali hening. Kami semua tutup mulut mengerjakan tugas kami masing-masing yang sudah dibagi sebelumnya. Sumber bunyi yang keluar paling-paling hanya beberapa pertanyaan saja. Akhirnya pada pukul 5.45 pekerjaan kami untuk hari ini diakhiri. Kemudian kami selalu mengerjakan tugas itu bersama-sama. Kami mengerjakan tugas itu secara bergantian, maksudnya tempat pelaksanaannya yang bergantian. Bisa dirumah Min Ho, Yun Mi, Taeyang, atau bahkan dirumah orang idiot itu. Kerja kelompok tidak pernah diadakan dirumahku karena aku tidak mau mereka melihat Junsu oppa, meskipun mereka sudah tau keadaanya. Dan apa kalian tahu? Sejak hari pertama kami—aku dan orang idiot itu--kerja kelompok kami sudah jarang bertengkar.
*****
Dan pada hari ini sebelum jam pelajaran pertama dimulai, mereka semua—Yun Mi, Min Ho, Taeyang, dan orang idiot—entah kenapa bersamaan bilang bahwa rumah mereka tidak dapat dipakai untuk kerja kelompok. Mereka bersekongkol atau apa, entahlah aku juga tidak tahu. Dan jadilah, rumahku sebagai sasaran mereka, akhirnya aku menyetujuinya. Mana mungkin aku menolak, karena memang selama kami kerja kelompok, rumahku tidak pernah dipakai. Tentunya karena aku yang tidak mau.
Seperti jadwal biasa, yaitu jam 4 pm, mereka sudah berkumpul dirumahku. Tapi kali ini, Orang idiot yang gossipnya selalu datang tepat waktu ternyata bisa terlambat juga. Mungkin nyasar kali. Hahaha.
Oppa sedang menonton tivi diruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat. Oppa bersikap ramah terhadap teman-temanku yang datang dan juga sebaliknya. Kami mengerjakan tugas kami diruang tengah. Kulirik jam dinding yang terpampang asin (kalo manis sudah biasa) didinding, pukul 4.20, kemana orang idiot itu? Eh,eh,eh kok aku malah memikirkannya? Kalau dia terlambat kan bagus, aku bisa membalas dendam seperti yang dilakukannya pada hari itu. Batinku. Tak lama kemudian aku mendengar suara klakson mobil, mungkin klakson orang idiot itu. Dia memang selalu membunyikan klakson mobilnya setelah berhenti didepan rumah orang, untuk memberi tanda bahwa dia sudah datang.
Kemudian aku berpura-pura untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di ruang tamu, padahal aku hanya bermaksud untuk melihat reaksi orang idiot itu atau Junsu oppa ketika mereka bertemu. Aku mau tau, apakah oppa mengenali orang idiot itu sebagai adik mantan kekasihnya dulu yang sudah menyebabkan dia menjadi cacat. Dan aku juga mau tau, apakah orang idiot itu mengenali Junsu oppa.
Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu, dan aku melihat mereka seperti sedang memperbincangkan sesuatu. Aku terdiam ditempat mendengar apa yang mereka bicarakan.
~~Pov_end~~
Seung Hyun berputar-putar mencari dimana rumah Hae Rin berdasarkan alamat yang tertera pada selembar kertas yang sudah lecek karena terus diremasnya. Dia sudah berputar-putar selama setengah jam tapi tidak menemukan letaknya. Akhirnya dia bertanya kepada seorang ibu-ibu yang sedang mendorong kereta bayi dan memperlihatkan alamat itu. Dan betapa bodoh dirinya, ternyata alamat yang ditunjukkan dari kertas itu adalah rumah yang sekarang berada tepat dihadapannya. Setelah berterimakasih kepada ibu itu, dia menjalankan mobilnya dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu sambil membunyikan klakson.
Kemudian dia memasuki rumah yang ternyata pintunya terbuka. Dia menangkap sosok yang sedang membaca buku. Mungkin itu oppanya Hae Rin, pikirnya.
Junsu yang menyadari kedatangan seseorang langsung berkata, “Teman Rin-rin, ya? Masuk saja. Mereka ada di ruang tengah.” Katanya tanpa melihat siapa yang datang. Tapi Seung Hyun sama sekali tidak bereaksi dan itu mengundang kecurigaan bagi Junsu lalu dia melihat Seung Hyun yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kau?” ucap Junsu, buku yang dipegangnya jatuh kelantai.
“Apa kau yang menolongku dua tahun yang lalu?” Seung Hyun yang mendengar pertanyaan dari Junsu masih berusaha untuk berpikir keras memutar kembali ingatannya dua tahun yang lalu, dan akhirnya dia berhasil mengingat memori itu. Ternyata orang dihadapannya ini adalah orang yang ditolongnya dua tahun yang lalu.
“Apa benar kau?” tanya Junsu sekali lagi memastikan.
“I, I, iya.” Jawab Seung Hyun ragu.
*****
Sementara itu Hae Rin terkejut ketika mengetahui bahwa Seung Hyun adalah orang yang telah menolong oppanya. Bagaimana mungkin, adik dari orang yang menyebabkan oppanya seperti ini adalah orang yang menolong oppanya?
“Yaaa~ Rin-rin-ah. Ternyata kau ada disana. Apa yang kau lakukan? Oh ya, apa kau tahu, ternyata temanmu ini adalah orang yang menolongku waktu itu.” Ujar oppanya antusias.
Hae Rin berusaha untuk tersenyum, lalu berkata, “Benarkah? Tapi, apa kau tahu? Dia juga adalah adik dari orang yang sudah membuatmu seperti ini.” Katanya sinis.
“A, A,Apa maksudmu?”
“Dia itu adik dari Choi Min Hye, oppa!! Dia adik dari seorang yeoja yang sudah melukai hatimu dan membuatmu seperti ini!!” Junsu yang mendengar pernyataan tersebut seperti sedang disambar halilintar begitu pula dengan Seung Hyun.
Seung Hyun tidak pernah tahu kalau Junsu adalah pacar nunanya dulu. Dan begitu pula dengan Junsu, dia juga tidak pernah tahu kalau Seung Hyun adalah adiknya Min Hye.
“Jadi, sikapmu selama ini kepadaku karena kau mengetahui bahwa aku adalah adik dari Min Hye nuna?”
“Iya, tentu saja. Aku sangat membenci kalian.” Tanpa mereka sadari, Yun Mi, Min Ho, dan Taeyang sudah menonton mereka.
“Jadi itu alasannya. Kalau begitu aku minta maaf kepadamu dan hyung atas nama Min Hye nuna. Aku minta maaf karena ia telah membuatmu seperti ini, hyung. Dan aku juga minta maaf kepadamu Hae Rin-ah karena telah membuat oppamu seperti ini. Jeongmal mianhae.” Seung Hyun tampak merasa amat bersalah.
“Tidak, sampai kapan pun aku akan tetap membencimu dan nunamu itu.”
“Sudahlah Rin-rin-ah dia bukan Min Hye. Dia tidak bersalah. Dan apa kau ingat? Dia yang menolongku.” Junsu berusaha untuk membujuk Hae Rin.
“Hae Rin-ah, aku bukan kakakku. Tidak adil jika kau juga membenciku.”
“Sebelumnya terima kasih karena kau telah menolong Junsu oppa waktu itu, tapi maaf aku tidak bisa tidak membencimu. Aku juga tidak tahu kenapa.” Seung Hyun yang mendengar itu kemudian pasrah saja, tapi dia berniat untuk membuat Hae Rin tidak membenci dirinya. Entah kenapa , setelah dia mengetahui alasan Hae Rin bersikap tidak baik kepadanya, Seung Hyun tidak rela jika karena itu. Tentu saja karena dia tidak bersalah, karena dia tidak tahu apa-apa mengenai nunanya itu dan juga mengenai Junsu.
Akhirnya mereka kembali mengerjakan tugas mereka setelah tertunda selama 40 menit itu. Seperti biasa, Hae Rin masih bersikap dingin pada Seung Hyun, tapi sekarang Seung Hyun berubah sikap kepada Hae Rin. Dan juga, tugas mereka telah selesai dan sudah dikumpul.
*****
Di sekolah, Seung Hyun selalu menyapa Hae Rin, tapi Hae Rin selalu membuang mukanya, tetapi usaha Seung Hyun tidak hanya sampai disitu Seung Hyun selalu berusaha meyakinkan Hae Rin untuk tidak membencinya tetapi Hae Rin tetap tidak mau perduli.
Hari ini, Seung Hyun berencana untuk datang kerumah Hae Rin untuk meyakinkan yeoja itu sekali lagi. Seung Hyun mengikuti Hae Rin yang pulang kerumahnya dengan jalan kaki karena jarak dari rumah Hae Rin kesekolah hanya berkisar 2 km. Tapi, saat hendak menyeberang jalan ada sebuah mobil merah yang melaju kencang yang sepertinya berusaha untuk menabrak Hae Rin.
Seung Hyun yang menyadari hal itu berniat untuk menolongnya. “AWAAASSS!!!” teriak Seung Hyun sembari berlari untuk menyelamatkan Hae Rin. Hae Rin berhasil diselamatkan, tetapi dirinyalah yang menjadi korban. Tubuhnya penuh dengan darah, Hae RIn yang panik langsung memanggil ambulans dan mengantarnya ke rumah sakit. Sedangkan mobil yang menabrak tadi melarikan diri dan tidak diketahui pemiliknya.
~~@Changnam Hospital~~
Seung Hyun langsung dibawa ke ruang UGD, dokter mengatakan Seung Hyun perlu dioperasi dan luka yang dialaminya cukup parah. Hae Rin duduk menunggu di sebuah bangku yang ada didekat sana. 27 menit kemudian seorang suster keluar dari ruangan tersebut dan berkata padanya “Pasien kehilangan banyak darah. Dan juga persediaan suplai darah yang golongannya sama seperti pasien sedang kosong. Kami memerlukan darah itu segera. “ Suster itu mengoceh panjang lebar(tinggi, dan jadilah rumus volume balok)
Golongan darah saya B, sus. Anda bisa memberikan darah saya kepadanya.”
“Baiklah, ayo ikut saya.” Kemudian darah Hae Rin diambil. Setelah itu suster kembali ke ruang Seung Hyun yang masih dioperasi. Empat jam kemudian dokter bersama anak buahnya keluar. Salah seorang dari dokter itu menghampiri Hae Rin.
“Masa kritis pasien sudah terlewati. Saya akan menghubungi orang tua dari pasien. “
“Apa saya bisa melihatnya sekarang, dok?”
“Ne, Saya pergi dulu. Annyeonghaseyo”
“Annyeonghaseyo” setelah mengucapkan kata itu, Hae Rin langsung masuk ke ruang tersebut. Disana terlihat tubuh Seung Hyun yang terpasang dengan berbagai macam alat yang seakan-akan adalah penopang hidupnya.
“Yaa!! Kau orang idiot!! Ayo bangun!!” ucap Hae Rin tepat di kuping Seung Hyun. Hae Rin tidak kuasa menahan air matanya melihat keadaan Seung Hyun.
“Heii, orang idiot! Ayo bangun, apa kau tidak mau menggangguku lagi? Atau kau tidak akan bangun kecuali aku memanggil namamu?” Hae Rin masih menggumam tidak jelas dengan suara serak. Dia terus berada disamping Seung Hyun. Untung saja ini hari Sabtu, jadi dia tidak perlu sekolah besok. Dia akan tetap menjaga Seung Hyun disini. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10.27 pm. Tapi, keluarga Seung Hyun belum juga kemari sejak 6 jam 43 menit yang lalu.
Entah kenapa, Hae Rin mencemaskan keadaan Seung Hyun. Apa mungkin karena Seung Hyun yang menyelamatkannya? Atau karena ada alasan lain yang ia sendiri tidak mengetahuinya.
“Choi Seung Hyun, Ironaa!! Nah apa kau dengar? Aku sudah mengucapkan namamu dengan baik dan benar. Jadi kuharap kau cepat bangun!!” Hae Rin menggenggam tangan Seung Hyun yang terasa dingin, dia juga bingung mengapa tiba-tiba dia melakukan hal tersebut kepada orang yang dibencinya.
Hae Rin merasa ngantuk lalu membaringkan kepalanya disamping tubuh Seung Hyun. Dan dia pun terlelap.
*****
Hae Rin merasa sesuatu bergerak-gerak diatas kepalanya, lalu dia terbangun dan mendapati Seung Hyun tengah membelai lembut kepalanya sambil tersenyum.
“Yaa!! Orang idiot, kau sudah bangun rupanya.”
“Tidak bisakah kau berhenti memanggilku orang idiot?”
“Tentu saja tidak. Karena kau memang idiot!!”
“Bisakah kau memanggilku dengan sebutan oppa, jagii-ku?”
“Hah? Apa katamu? Oppa? Jagi-mu? Hahaha. Yang benar saja? Apa kau sudah gila?”
“Iya jagii-ku. Aku memang sudah gila karena mu. Apa kau tahu Aku mencintaimu? Hae Rin-ah, saranghae.” Hae Rin terdiam mendengar pengakuan dari Seung Hyun. Yang benar saja? Orang yang selama ini sangat dibencinya dan menjadi musuh besarnya tiba-tiba saja mengatakan cinta padanya?
“Hahahahaha.. Hebat sekali leluconmu. Kupikir kau berbakat untuk akting. Dasar kau idi__”
“CUP” Seung Hyun mencium bibir Hae Rin lembut untuk menghentikan ocehannya, lalu tersenyum. Hae Rin kaget dengan apa yang barusan terjadi.
“Yaa!! Kau benar-benar idiot!! Kau pikir kau siapa, sembarangan menciumku, hah?”
“Aku adalah Choi Seung Hyun, orang yang paling kau benci tapi mencintaimu. Maukah kau menjadi yeoja chingu-ku, Choi Hae Rin?” Seung Hyun mengucapkannya dengan nada serius dan tatapan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. *author bingung kyak pa menggambarkan tatapan TOP*
Hae Rin membeku, tak dapat berkata-kata. Seolah terhipnotis dengan perkataan dan tatapan Seung Hyun dia mengangguk.
“Hae Rin, Saranghae.”
“Hah, apa? Apa yang terjadi? Kau bilang ap__”
Lagi-lagi Seung Hyun mencium bibir Hae Rin lama dan dengan penuh perasaan, tapi Hae Rin tidak menolak dia membalas ciuman tersebut.
*****
Yun Mi, Taeyang, dan Minho pergi kerumah sakit bersama-sama pagi itu (hah? Mang sudah jam besuk ya? Ah, biarin, sekali lagi saya tekankan Apa pun yang terjadi, semua berdasarkan hak sang Author .hehehe) Mereka memutuskan untuk kerumah sakit setelah mendapat telpon dari Hae Rin semalam. Mereka langsung menuju ke ruang yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Hae Rin lewat telpon. Mereka memutuskan untuk menjenguknya pagi ini karena ingin memberi kejutan. Sesampainya didepan pintu kamar, tanpa basa-basi mereka langsung membuka pintu itu dan melihat suatu adegan yang tidak layak dilihat oleh anak berusia dibawah 10 tahun (lho? Bukannya dibawah 17 tahun ya? Tak apalah, kan sudah saya bilang Apa pun yang terjadi, semua berdasarkan hak sang Author. Hoho*memang enak jadi author*)
“HUAAAAAAAAaaaaAAAaaaaaaAAAA” mereka bertiga berteriak bersamaan. Seung Hyun dan Hae Rin langsung menghentikan kegiatan mereka dan malah nyengir kuda melihat teman-teman mereka yang hampir jantungan.
**********THE END**********
Closing
Eottoke?
Mian yha kalo kpnjangan. hehehe
Jangan lupa pesan saya pada WARNING yg ke4 yang berbunyi: Karena saya sudah bilang NO SILENT READERS, artinya anda harus membaca, meng- like, dan mengomentarin ff ini.
Annyeong!
Wassalamu ‘alaikum wr. wb
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Annyeonghaseyo!!
Ohayo, Konnichiwa, dan konbanwa.
Selamat pagi, siang, dan malam.
Gud mornin’, gud day, n gud nite.
Pertama-tama saya ucapkan banyak terimakasih kepada Allah SWT. karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah saya dapat menyelesaikan ff oneshoot gaje ini. Hahaha
Kedua saya ucapkan terimakasih kepada Mas Iman—tukang service leptop disebelah rumah—karena atas jasanya leptop saya bisa baik *tapi kok menurutku jadi tambah sedeng?* sehingga ff ini dapat diketik di leptop yang udah keluar-masuk dari rumah sakitnya udah ngga terhitung lagi.
Ketiga buat para readers yang nanti bersedia membaca, meng-like, dan mengomentarin ff saya ini. (udah ah, openingx aja kepanjangan, apalagi crtax)
WARNING!!
1. Harap dibaca sampai habis, karena bagian endinglah yang sangat menentukan. Hahaha
2. Anak usia dibawah 10 tahun dilarang membaca. (mang ada apaan?)
3. NO SILENT READERS
4. Karena saya sudah bilang No SILENT READERS, artinya anda harus membaca, meng- like, dan mengomentarin ff ini.
5. Ikutilah persyaratan yang sudah ditentukan.
Cast :
Me as Choi Hae Rin
Me as Choi Min Hye
Choi Seung Hyun aka TOP
Choi Min Ho
Dong Young Bae aka Taeyang
Dindin as Park Yun Mi
Kim Jun Su aka Choi Jun Su
Kim Jaejoong
******
The Unknown Fact
__________________________
~~TOP~~
Aku tengah membaca buku didalam kelas saat pelajaran tengah berlangsung, tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi.
”Choi Seung Hyun, Choi Hae Rin, Choi Min Ho, Dong young bae, dan Park Yun Mi, kalian dalam kelompok lima. Tugas harus dikumpulkan bulan depan!!” Aku terlonjak kaget mendengar suara sonsaeng menyebutkan nama-nama yang termasuk dalam kelompok lima, bukan suara sonsaeng yang besar membosankan itu yang mengejutkanku, tapi salah satu nama yabg disebutkan dalam pernyataannya barusan. Bagaimana bisa aku harus satu kelompok dengannya?
Hubunganku dengan gadis itu telah menjadi sebuah rahasia umum, bahkan diseantero SMA kami pun, mengetahui dengan sangat jelas bahwa aku dan Dia tidak pernah akur bagaikan anjing dan kucing, Dia anjingnya dan aku kucingnya?? Aku juga bingung mengapa hubungankami bisa seperti ini, entah apa penyebabnya. Dia bisa berteman dengan siapa saja, tetapi kenapa tidak denganku? Apa salahku sehingga Dia selalu menjauh dariku dan selalu mengata-ngataiku? Aku juga tidak tahu. Dia bersikap seperti itu sejak pertama kali kami bertemu, tepatnya saat dikelas X.
Karena sikap dan sifatnya yang tidak bersahabat, aku pun bertindak seperti apa yang Dia lakukan padaku. Yah, bisa dibilang seperti air yang mengalirlah. Kami selalu bersaing dikelas maupun diluar kelas, atau bahkan dimana saja. Kami selalu bersaing untuk memperebutkan peringkat terbaik dalam hal apapun!! Baik dalam akademik maupun non-akademik.
“Maaf, sonsaengnim. Saya tidak mau berkelompok dengan orang semacam Seung Hyun.” Katanya sambil menatapku sinis.
“Heh, apa maksudmu? Kau pikir aku juga mau satu kelompok dengan gadis aneh sepertimu?” balasku.
“Apa kau bilang? Gadis aneh? Kau kira kau siapa bisa mengataiku gadis aneh, kamu tuh yang aneh!”
“Siapa aku? Hahahaha, kamu ngga tau siapa aku? Aku Choi Seung Hyun, arasseo, silly girl?” aku tertawa kearahnya. Selama hampir dua tahun kami bersama Dia masih saja tidak tau aku ini siapa?Yang benar saja?
“Siapa juga yang bertanya namamu? Ngga penting banget tau ngga? Dasar idiot!!!” baru saja aku akan membalas ucapannya barusan, tapi sonsaengnim mengeluarkan suaranya duluan.
“Heh, kalian berdua!! Tidak bisakah kalian menghentikan perdebatan tidak penting yang hanya menghabis-habiskan waktu saya? Saya tekankan KEPUTUSAN SAYA TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT!! Arasseo?!” bentak sonsaeng.
“Tapi, Pak, Sebaiknya Dia yang dipindah kekelompok lainnya, atau saya saja yang akan pindah?” Dia masih tidak menerima keputusan sonsaengnim.
“Sebaiknya saya saja yang pindah, Pak. Saya tidak mau didalam kelompok saya ada yang tidak menerima saya.”
“Sudah, Choi Seung Hyun, Choi Hae Rin. Jangan membantah. Sekali lagi saya tegaskan KEPUTUSAN SAYA TIDAK DAPAT DIGANGGU GUGAT!!” Akhirnya aku menyerah dan kembali duduk dibangkuku. Dari sudut mataku, aku melihat sonsaengnim itu berjalan meninggalkan ruang kelas kami dan Dia juga menunjukkan ekspresi tidak suka akan keputusan sonsaengnim tadi. Aku pun melanjutkan acara baca bukuku yang sempat tertunda tadi.
~~Rin-rin~~
“Huffftt~” Aku menghembuskan nafas setelah kembali duduk. Aku benar-benar kesal!! Rasanya aku harus mencari tempat pelampiasan kekesalanku hari ini. Tanpa butuh waktu yang lama aku telah berhasil menemukan seseorang yang dapat membantuku menghilangkan kekesalanku dia berjalan melewati tempat dudukku yang persis berada sebelum pintu keluar dari kelas .
“Yaa!! Min Ho-ah!! Sini kau!!” panggilku saat dia sudah tepat berada didepan pintu, dia menoleh kearahku.
“Apa?” tanyanya berlagak galak yang kurasa tidak cocok sekali dengan wajahnya yang cute itu. . Hahaha, Min Ho ini adalah salah seorang sahabatku. Andai saja dia bukan sahabatku pasti aku sudah jatuh cinta padanya sejak tiga tahun yang lalu. Tapi anehnya, meskipun dia tampan aku sama sekali tidak pernah tertarik padanya.Tapi, jangan pikir kalau aku tidak normal ya? I’m normal baby!! Buktinya sewaktu aku masih SMP kelas 2 aku mempunyai seorang pacar yang bernama Jaejoong dan setelah kelulusan kami masih berhubungan. Tapi, akhirnya kami mengakhiri hubungan kami karena kami tidak dapat terus-menerus berhubungan jarak jauh. Sekarang dia bersekolah di Tokyo.
“Main bola yok!!” ajakku.
“Hahaha, ayok!!” ekspresinya langsung berubah. Kemudian kami berjalan beriringan menuju lapangan bola sambil memegangi bola yang akan kami mainkan. Lapangan yang semula ramai dipenuhi siswa-siswa yang lainnya yang juga memakai untuk bermain bola, langsung menyingkir ketika melihat kedatanganku. Ya, mungkin dikarenakan aku seorang ketua OSIS yang sedang melempar-lemparkan bola keudara kemudian menangkapnya lagi dan seakan-akan aku akan segera melemparkan bola itu tepat ke arah wajah orang yang berani menghalangiku bermain. Padahal tidak, aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba mereka menyingkir. Yah, tapi tak usah dipikirkanlah, yang penting nyaman!! Akhirnya hanya aku dan Min Ho yang bermain dilapangan sebesar ini. Kami hanya melakukan pinalty.
“Hush!! Sana, kau jaga saja!!” aku menyuruhnya menjadi penjaga gawang. Ya karena memang itulah keahliannya dan aku juga tidak berminat sedikitpun untuk menjadi penjaga gawang. Kemudian dia mengambil posisi didepan gawang. Aku menembakkan bola kearah gawang beberapa kali tapi berhasil dialihkannya. Kemudian aku mengambil ancang-ancang untuk menembaknya dengan mengeluarkan seluruh kemampuan dan seluruh kekesalanku hari ini. Tapi sayang, bola membentur mister gawang, kemudian memantul kesuatu arah dan dengan sempurna mendarat diwajah seseorang yang sedang berjalan membawa buku. Seketika itu juga buku-buku yang dipegang orang itu berjatuhan. Dia kemudian langsung memungut-munguti bukunya yang jatuh dan segera menoleh kearah lapangan bola untuk mengetahui siapa tersangka dari tindakan barusan. Saat orang itu menoleh hidung orang itu berdarah dan ternyata orang itu adalah CHOI SEUNG HYUN si idiot!!!
Setelah menyadari bahwa orang itu adalah Choi Seung Hyun, aku segera membuang muka seakan tidak perduli dengan apa yang terjadi. Yah memang begitulah kenyataannya, aku memang tidak perduli dan tidak akan pernah perduli padanya!! Kemudian aku berlalu meninggalkan lapangan bola dan kembali kekelas. Sebelum kembali, aku sempat melihat Min Ho yang ternganga lebar dengan memasang tampangnya yang aneh itu. Hahaha, lucu sekali.
~~TOP~~
Saat aku berjalan dipinggir lapangan bola sambil membawa buku-buku yang baru saja ingin kukembalikan keperpustakaan, suatu benda yang berbentuk bulat langsung menghantam wajahku. Aku yang kaget, refleks saja menjatuhkan buku-buku yang kubawa. Aku merasakan ada sesuatu yang mengalir dibagian atas bibirku tepatnya dibagian bawah hidung, tapi aku tidak mengindahkannya. Aku langsung memunguti buku-buku itu. Saat aku menunduk untuk mengambil buku-buku itu, sesuatu yang berwarna merah menetes kebawah. Darah? pikirku. Aku langsung mempercepat gerakanku dan langsung mengalihkan pandanganku ke arah lapangan bola berusaha mencari sosok yang telah melakukan ini semua padaku.
Seorang yeoja tengah berdiri dengan santainya dengan menatap kearahku, dan aku menyadari bahwa dialah sosok yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya ini. Tapi, dia langsung membuang muka. Aku yang tak mau ambil pusing langsung bergegas keperpustakaan karena waktu istirahat akan segera berakhir. Aku membersihkan darah yang mengalir dari hidungku dengan lengan seragamku. Setelah aku mengembalikan buku, aku kembali kekelas.
Di dalam kelas, aku mendapati si gadis aneh itu. Dia sedang menegak sebotol air mineral. Aku pun mendatanginya dengan emosi-emosi yang membara.
“Yaa!! Kau gadis aneh!!!” bentakku sambil memukul mejanya sehingga mengeluarkan bunyi yang keras dan otomatis semua mata yang ada didalam kelas melihat ke arah kami. Sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi lagi, gadis itu tersedak dan menyemburkan minuman dari mulutnya tepat kemukaku.
“Haiissshh!! Kau__” Kataku geram.
“Apa hah? Kau mau apa? Salah siapa mengejutkan orang yang lagi minum? Dasar Idiot!!” Malah dia yang marah-marah padaku.
“Heh!! Gadis aneh!! Seharusnya aku yang membentakmu karena kau telah membuat hidungku berdarah karena bolamu itu.”
“Hah? Itu salahmu!! Siapa suruh kau tidak menghindar?”
“Kau!!” aku naik keatas mejanya. Dan menatap wajahnya. Dia terlihat terkejut tapi kemudian memasang senyum yang menurutku aneh.
“Mau apa kau hah?” tanyanya mendekatkan wajah ke wajahku.
“Yaaa!! Seung Hyun-ah!! Sedang apa kau? Cepat keluar dari jam pelajaran saya!!” Suara yang tidak asing lagi ditelingaku menggema diseluruh ruang kelas.
“Tunggu apa lagi? Cepat keluar!!” Tak kusadari ternyata dari tadi aku masih berjongkok diatas meja gadis aneh itu, aku pun segera turun dan keluar dari kelas. Sebelum aku keluar si gadis aneh itu sempat berbisik, “Mampus!!”
~~Rin-rin~~
Orang idiot itu keluar dari kelas karena diusir oleh Ki Bum sonsaengnim sang guru sejarah yang killernya minta ampun itu. Aku tak perduli dan tidak akan pernah mau perduli dengan apapun yang dilakukan orang idiot itu setelah apa yang dilakukan nunanya kepada oppaku. Aku sangat membenci mereka!!
Oppaku menjadi cacat karena berusaha bunuh diri akibat melihat nunanya orang idiot itu berciuman dengan seorang namja. Sampai sekarang aku masih tidak tahu apakah oppaku mengenal adik dari mantan kekasihnya itu yang sekarang menjadi teman sekelasku, eh engga deng, maksudku musuh besarku!!
Oppaku yang baik, yang menyayangiku, yang selalu menjagaku sejak orang tua kami tiada sekitar 5 tahun yang lalu sekarang hanya bisa berdiam diri diatas kursi rodanya sejak kejadian 2 tahun yang lalu. Untung saja usahanya itu bisa digagalkan karena ada seorang namja yang menolongnya. Orang itu langsung menghubungiku dan membiayai semua dana yang seharusnya ditanggung olehku. Orang itu langsung pergi setelah melakukan semua itu, tanpa sempat aku berterima kasih kepadanya.
~~Pov end~~
**Flash Back**
2 years ago
Junsu keluar dari sebuah toko bunga dengan membawa sebucket bunga mawar putih ditangannya, dengan maksud memberi kejutan kepada kekasihnya yang berulangtahun pada hari itu. Dia juga telah menyiapkan sepasang cincin untuk melamar kekasihnya itu.
Junsu berjalan menuju universitas tempat kekasihnya berkuliah. Saat melewati taman disekitar kampusnya, Junsu melihat sosok Min Hye—kekasihnya-- dan berniat untuk menghampirinya, tapi tidak jadi karena Min Hye tidak hanya sendiri. Junsu berdiri mematung menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kekasihnya berciuman dengan namja lain!! Bunga yang ada digenggamannya kemudian dia hempaskan ketanah dan menginjak-injaknya. Dia segera berlari kejalan raya dan dia mendapati sebuah truk melaju kencang, tanpa berpikir panjang Junsu segera berlari kedepan truk itu agar segera merenggut nyawanya.
****
Seung Hyun keluar dari sebuah kedai makanan berniat untuk menjemput nunanya yang berulangtahun, tapi dia mendapati seorang namja tengah berlari ke arah sebuah truk yang melaju kencang. Tanpa pikir panjang, Seung Hyun berusaha mengejar namja yang sepertinya berusaha untuk menabrakkan dirinya itu. Seung Hyun mendorong tubuh namja itu dan akhirnya mereka tidak tertabrak oleh truk itu.
Seung Hyun melihat kearah namja yang ia tolong, kepala namja itu berdarah mungkin terbentur oleh pinggiran trotoar. Seung Hyun segera membawa namja itu kerumah sakit terdekat. Sesampainya dirumah sakit, Seung Hyun langsung menghubungi salah satu kontak panggilan keluar terakhir yang ada dilayar ponsel namja itu yang bertuliskan ‘Dongsaeng-ku’. Setelah menghubunginya, Seung Hyun berbicara kepada seorang suster, “Sus, semua biaya biar saya yang menanggung, appa juga pasti tidak akan keberatan.” Setelah berkata seperti itu Seung Hyun pergi entah kemana.
****
Hae Rin segera menuju kerumah sakit setelah mendapat telpon dari seseorang yang mengabarkan bahwa oppanya ada dirumah sakit. Sesampainya didepan ruangan yang sebelumnya telah diberitahukan sipenelpon, seorang dokter datang menghampirinya.
“Apa kau keluarga dari pasien yang ada didalam?”
“Ne, Sebenarnya apa yang terjadi pada Junsu oppa, dok?”
“Sebaiknya kita bicarakan hal ini di ruangan saya saja” Kemudian mereka berjalan menuju ruangan dokter tersebut.
“Apa yang terjadi, dok?” tanya Hae Rin cemas.
“Menurut informasi yang saya dapat dari orang yang membawanya kemari, oppa mu ini berusaha bunuh diri dengan cara menabrakkan tubuhnya ke truk yang sedang melaju kencang.” Dokter menghentikan perkataanya sebentar.
“Oppamu tidak jadi mati karena telah ditolong oleh orang yang membawanya kemari, Tapi__” Dokter menggantung kalimatnya.
“Tapi apa, dok?” tanya Hae Rin ketakutan.
“Tapi kepalanya membentur trotoar disisi jalan.”
“Apa dia amnesia, dok?”
“Tidak, dia tidak amnesia. Tapi, lebih parah daripada itu. Beberapa sistem sarafnya ada yang terganggu dan menyebabkan dia tidak dapat berjalan. *mangnya ada penyakit yang kek gitu? Ada kan aja gin. Hahaha. Apa pun yang terjadi, semua berdasarkan hak sang Author. Hihi*” Air mata Hae Rin langsung tumpah mendengar pernyataan dari dokter.
“Apa aku bisa menemuinya sekarang?” tanya Hae Rin setelah sedikit agak tenang. Dokter pun mengangguk. Mereka kembali ke ruang rawat Junsu. Kepala oppanya dibalut dengan perban. Hae Rin duduk disebuah kursi yang ada disamping ranjang pasien.
“Oppa.” Panggil Hae Rin pelan. Hae Rin terisak pelan disamping tubuh oppanya.Tak lama kemudian tangan Junsu bergerak-gerak dan matanya terbuka secara perlahan.
“Oppa!!” seru Hae Rin.
“Dongsaeng, kenapa aku bisa disini?” tanya Junsu ketika matanya sudah terbuka penuh dan menyadari dia sedang terbaring diranjang rumah sakit.
“Kau berusaha bunuh diri oppa tapi ada orang yang menolongmu dan membawamu kesini, sebenarnya apa yang terjadi?” Junsu kembali mengingat kejadian itu dan menceritakannya kepada adiknya.
“Kau tahu Min Hye?”
“Ne, bukankah dia yeoja chingumu?”
“Ya, tapi tadi aku melihat dia berciuman dengan namja lain saat aku akan menjemputnya, lalu aku tidak ingat apa-apalagi setelah kejadian itu dan tiba-tiba saja aku ada disini. Oh ya, aku ingat sebelum aku kesini aku ditolong oleh seorang namja dan Aku masih ingat wajah namja yang menolongku itu.” Hae Rin yang mendengarnya seakan tidak percaya. Bagaimana bisa, Min Hye,kekasih oppanya itu tega berbuat seperti itu kepada oppanya yang begitu tulus mencintainya. Mulai saat itu juga Hae Rin mulai membenci Choi Min Hye. Mereka terdiam beberapa saat.
“Hae Rin, Ayo kita keluar. Aku tidak tahan kalau hanya terus berbaring diranjang rumah sakit yang keras ini.” Hae Rin yang mendengar permintaan oppanya itu terkejut dan terlihat sedih. Mana mungkin oppanya bisa jalan keluar kalau dia lumpuh.
“Oppa, kau masih belum sehat.” Hae Rin takut akan apa yang akan dirasakan oppanya jika oppanya itu mengetahui bahwa dia lumpuh. Junsu berusaha bangkit dari ranjang untuk berdiri, tapi___
“Arrrrggghhh!!!” Junsu terjatuh, Hae Rin langsung membantunya berbaring kembali diranjang.
“Kenapa?” Tanya oppanya. Hae Rin diam tak menjawab dia masih takut.
“Kenapa aku tidak merasakan kakiku?” lanjut Junsu tidak puas dengan pertanyaannya yang tak terjawab. Lalu Hae Rin menceritakan semuanya. Seminggu setelah dirawat dirumah sakit, Junsu diperbolehkan pulang. KIni dia menggunakan kursi roda, dan dia memutuskan untuk menghentikan kuliahnya karena keadaanya ini. Beberapa hari sebelum dia keluar dari rumah sakit, Min Hye menemuinya dan langsung meminta putus pada Junsu ketika tahu bahwa sekarang Junsu cacat!! Untung saja Junsu tetap tabah, meski terkadang ia sering mengutuk kondisinya. Sejak saat itu, Hae Rin mulai mencari pekerjaan untuk menghidupi kehidupan mereka berdua.
**Flash Back_end**
~~Back To Rin-rin Pov~~
Setelah jam pelajaran Ki Bum sonsaengnim berakhir, Orang idiot yang idiotnya melebihi hakime komaru *Selamat bagi readers yang kenal dengannya* langsung masuk kekelas dan menatapku tajam (setajam pedang). Satu detik kemudian sederet kata-kata meluncur dengan lancar dari mulutnya. Aku tidak dapat menangkap kata-katanya itu (iyalah!! Mana bias kata-kata ditangkap. Lo pikir bola?)
“Yaa!! Gadis aneh!! Kau dengar tidak?” Hanya kalimat itu yang dapat kutangkap.
“Dasar kau orang idiot!! Kau pikir aku mau mendengarkan ocehan-ocehan tak penting milikmu itu?” balasku sengit.
“Hyaaa~! Tak ada gunanya bicara denganmu, hanya tambah memperburuk keadaan saja!!”
“Kau pikir siapa yang memperburuk keadaan, hah? Kau!!”
“Apa? Aku? Justru kau!!”
“Hei, hei. Sudahlah kalian ini. Hentikan!!” Yun Mi yang ternyata sedari tadi masih ada disebelahku berusaha mengakhiri perdebatan kami. “Jadi, bagaimana dengan tugas kelompok kita? Kapan dan dimana kita akan mengerjakannya?” lanjutnya
“Bagaimana kalau dirumahku saja?” tiba-tiba Min Ho dan Taeyang—panggilan Young bae—datang menghampiri kami.
“Jadi, bagaimana kalau kita mengerjakannya di rumahku saja?” tawar Min Ho lagi. Aku, Taeyang, dan Yun Mi langsung mengiyakan.
“Bagaimana Seung Hyun-ah? Apa kau bisa?” Tanya Min Ho.
“Yayaya. Baiklah. Kapan?”
“Besok jam 4, ya!!”
*****
~~Keesokan harinya_ 4 pm.
“Oppa, aku duluan ya. Annyeong” Kataku berpamitan pada Junsu oppa. Aku langsung melajukan sepeda motorku kerumah Min Ho karena aku hampir telat. Gara-gara dugaanku salah, kalau mengira hari ini pelanggan dirumah makan tempatku bekerja akan sepi. Dan jadilah aku terlambat, mana aku harus mengambil barang yang tertinggal terlebih dulu. Dan jadilah begini, Aku melajukan motorku seperti orang kesetanan. Untung saja aku sudah ahli salip sana salip sini. Hihihihihihi..
Setelah sampai didepan rumah Min Ho yang berjarak kurang lebih 8 km dari rumahku (biasanya sih memakan waktu 20 menit, berhubung aku tadi ngebut jadi hanya 12 menit saja. Hahaha) Aku langsung melihat jam tangan berwarna kuning yang kukenakan (ngga penting banget) pukul empat lewat 5 menit. Huaa~ Aku terlambat, semoga masih ada yang lebih lambat dariku. Dan ternyata, dugaanku lagi-lagi terpeleset, eh salah meleset deng. Hehe. Semuanya sudah lengkap berkumpul dan mulai mendiskusikan sesuatu sambil menyatatnya.
“Mian, aku telat.”
“Gwenchana, ayo duduk dan kita mulai.” Baru saja aku mau duduk, aku langsung dikagetkan oleh sebuah suara yang sangat-sangat kubenci.
“Eh kau, gadis aneh!! Bisa-bisanya kau telat! Kau tahu kau sudah terlambat sekian lama, hah? Lima menit! Tak tahukah kau betapa berharganya lima menit itu?” Orang idiot itu langsung menceramahiku panjang lebar. Tapi aku cuek bebek saja dan langsung duduk. Aku sedang tidak mood berdebat.
“Sudahlah Seung Hyun-ah. Mungkin dia terlambat karena dia sibuk.” Kata Min Ho.
“Hah? Sibuk? Bagaimana bisa orang sepertinya sibuk? Sibuk kesalon?” Tanya Orang idiot itu lagi dengan nada sinis.
“Dia sibuk bekerja, Seung Hyun-ah. Dia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya bersama dengan oppanya.” Kali ini Yun Mi yang menjelaskan. Oh baby, orang idiot seperti dia tidak perlu tahu kehidupanku.
“Kenapa bukan oppanya saja yang bekerja? Oppanya kan laki-laki?” Oh god!! Aku tidak mau mendengarnya!!
“Oppanya tidak dapat bekerja, oppanya lumpuh” jawab Min Ho dan sedetik kemudian langsung menyesali ucapannya ketika menyadari perubahan wajahku. Seketika itu keadaan langsung sunyi senyap, yang terdengar hanyalah bunyi pulpen-pulpen yang ditorehkan pada kertas putih untuk menulis.
“Hae Rin, Mianhaeyo” ucap orang idiot itu memecah keheningan.
“Ne, gwenchana. Lupakan saja.” Setelah aku mengucapkan kalimat itu, suasana kembali hening. Kami semua tutup mulut mengerjakan tugas kami masing-masing yang sudah dibagi sebelumnya. Sumber bunyi yang keluar paling-paling hanya beberapa pertanyaan saja. Akhirnya pada pukul 5.45 pekerjaan kami untuk hari ini diakhiri. Kemudian kami selalu mengerjakan tugas itu bersama-sama. Kami mengerjakan tugas itu secara bergantian, maksudnya tempat pelaksanaannya yang bergantian. Bisa dirumah Min Ho, Yun Mi, Taeyang, atau bahkan dirumah orang idiot itu. Kerja kelompok tidak pernah diadakan dirumahku karena aku tidak mau mereka melihat Junsu oppa, meskipun mereka sudah tau keadaanya. Dan apa kalian tahu? Sejak hari pertama kami—aku dan orang idiot itu--kerja kelompok kami sudah jarang bertengkar.
*****
Dan pada hari ini sebelum jam pelajaran pertama dimulai, mereka semua—Yun Mi, Min Ho, Taeyang, dan orang idiot—entah kenapa bersamaan bilang bahwa rumah mereka tidak dapat dipakai untuk kerja kelompok. Mereka bersekongkol atau apa, entahlah aku juga tidak tahu. Dan jadilah, rumahku sebagai sasaran mereka, akhirnya aku menyetujuinya. Mana mungkin aku menolak, karena memang selama kami kerja kelompok, rumahku tidak pernah dipakai. Tentunya karena aku yang tidak mau.
Seperti jadwal biasa, yaitu jam 4 pm, mereka sudah berkumpul dirumahku. Tapi kali ini, Orang idiot yang gossipnya selalu datang tepat waktu ternyata bisa terlambat juga. Mungkin nyasar kali. Hahaha.
Oppa sedang menonton tivi diruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat. Oppa bersikap ramah terhadap teman-temanku yang datang dan juga sebaliknya. Kami mengerjakan tugas kami diruang tengah. Kulirik jam dinding yang terpampang asin (kalo manis sudah biasa) didinding, pukul 4.20, kemana orang idiot itu? Eh,eh,eh kok aku malah memikirkannya? Kalau dia terlambat kan bagus, aku bisa membalas dendam seperti yang dilakukannya pada hari itu. Batinku. Tak lama kemudian aku mendengar suara klakson mobil, mungkin klakson orang idiot itu. Dia memang selalu membunyikan klakson mobilnya setelah berhenti didepan rumah orang, untuk memberi tanda bahwa dia sudah datang.
Kemudian aku berpura-pura untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di ruang tamu, padahal aku hanya bermaksud untuk melihat reaksi orang idiot itu atau Junsu oppa ketika mereka bertemu. Aku mau tau, apakah oppa mengenali orang idiot itu sebagai adik mantan kekasihnya dulu yang sudah menyebabkan dia menjadi cacat. Dan aku juga mau tau, apakah orang idiot itu mengenali Junsu oppa.
Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu, dan aku melihat mereka seperti sedang memperbincangkan sesuatu. Aku terdiam ditempat mendengar apa yang mereka bicarakan.
~~Pov_end~~
Seung Hyun berputar-putar mencari dimana rumah Hae Rin berdasarkan alamat yang tertera pada selembar kertas yang sudah lecek karena terus diremasnya. Dia sudah berputar-putar selama setengah jam tapi tidak menemukan letaknya. Akhirnya dia bertanya kepada seorang ibu-ibu yang sedang mendorong kereta bayi dan memperlihatkan alamat itu. Dan betapa bodoh dirinya, ternyata alamat yang ditunjukkan dari kertas itu adalah rumah yang sekarang berada tepat dihadapannya. Setelah berterimakasih kepada ibu itu, dia menjalankan mobilnya dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu sambil membunyikan klakson.
Kemudian dia memasuki rumah yang ternyata pintunya terbuka. Dia menangkap sosok yang sedang membaca buku. Mungkin itu oppanya Hae Rin, pikirnya.
Junsu yang menyadari kedatangan seseorang langsung berkata, “Teman Rin-rin, ya? Masuk saja. Mereka ada di ruang tengah.” Katanya tanpa melihat siapa yang datang. Tapi Seung Hyun sama sekali tidak bereaksi dan itu mengundang kecurigaan bagi Junsu lalu dia melihat Seung Hyun yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kau?” ucap Junsu, buku yang dipegangnya jatuh kelantai.
“Apa kau yang menolongku dua tahun yang lalu?” Seung Hyun yang mendengar pertanyaan dari Junsu masih berusaha untuk berpikir keras memutar kembali ingatannya dua tahun yang lalu, dan akhirnya dia berhasil mengingat memori itu. Ternyata orang dihadapannya ini adalah orang yang ditolongnya dua tahun yang lalu.
“Apa benar kau?” tanya Junsu sekali lagi memastikan.
“I, I, iya.” Jawab Seung Hyun ragu.
*****
Sementara itu Hae Rin terkejut ketika mengetahui bahwa Seung Hyun adalah orang yang telah menolong oppanya. Bagaimana mungkin, adik dari orang yang menyebabkan oppanya seperti ini adalah orang yang menolong oppanya?
“Yaaa~ Rin-rin-ah. Ternyata kau ada disana. Apa yang kau lakukan? Oh ya, apa kau tahu, ternyata temanmu ini adalah orang yang menolongku waktu itu.” Ujar oppanya antusias.
Hae Rin berusaha untuk tersenyum, lalu berkata, “Benarkah? Tapi, apa kau tahu? Dia juga adalah adik dari orang yang sudah membuatmu seperti ini.” Katanya sinis.
“A, A,Apa maksudmu?”
“Dia itu adik dari Choi Min Hye, oppa!! Dia adik dari seorang yeoja yang sudah melukai hatimu dan membuatmu seperti ini!!” Junsu yang mendengar pernyataan tersebut seperti sedang disambar halilintar begitu pula dengan Seung Hyun.
Seung Hyun tidak pernah tahu kalau Junsu adalah pacar nunanya dulu. Dan begitu pula dengan Junsu, dia juga tidak pernah tahu kalau Seung Hyun adalah adiknya Min Hye.
“Jadi, sikapmu selama ini kepadaku karena kau mengetahui bahwa aku adalah adik dari Min Hye nuna?”
“Iya, tentu saja. Aku sangat membenci kalian.” Tanpa mereka sadari, Yun Mi, Min Ho, dan Taeyang sudah menonton mereka.
“Jadi itu alasannya. Kalau begitu aku minta maaf kepadamu dan hyung atas nama Min Hye nuna. Aku minta maaf karena ia telah membuatmu seperti ini, hyung. Dan aku juga minta maaf kepadamu Hae Rin-ah karena telah membuat oppamu seperti ini. Jeongmal mianhae.” Seung Hyun tampak merasa amat bersalah.
“Tidak, sampai kapan pun aku akan tetap membencimu dan nunamu itu.”
“Sudahlah Rin-rin-ah dia bukan Min Hye. Dia tidak bersalah. Dan apa kau ingat? Dia yang menolongku.” Junsu berusaha untuk membujuk Hae Rin.
“Hae Rin-ah, aku bukan kakakku. Tidak adil jika kau juga membenciku.”
“Sebelumnya terima kasih karena kau telah menolong Junsu oppa waktu itu, tapi maaf aku tidak bisa tidak membencimu. Aku juga tidak tahu kenapa.” Seung Hyun yang mendengar itu kemudian pasrah saja, tapi dia berniat untuk membuat Hae Rin tidak membenci dirinya. Entah kenapa , setelah dia mengetahui alasan Hae Rin bersikap tidak baik kepadanya, Seung Hyun tidak rela jika karena itu. Tentu saja karena dia tidak bersalah, karena dia tidak tahu apa-apa mengenai nunanya itu dan juga mengenai Junsu.
Akhirnya mereka kembali mengerjakan tugas mereka setelah tertunda selama 40 menit itu. Seperti biasa, Hae Rin masih bersikap dingin pada Seung Hyun, tapi sekarang Seung Hyun berubah sikap kepada Hae Rin. Dan juga, tugas mereka telah selesai dan sudah dikumpul.
*****
Di sekolah, Seung Hyun selalu menyapa Hae Rin, tapi Hae Rin selalu membuang mukanya, tetapi usaha Seung Hyun tidak hanya sampai disitu Seung Hyun selalu berusaha meyakinkan Hae Rin untuk tidak membencinya tetapi Hae Rin tetap tidak mau perduli.
Hari ini, Seung Hyun berencana untuk datang kerumah Hae Rin untuk meyakinkan yeoja itu sekali lagi. Seung Hyun mengikuti Hae Rin yang pulang kerumahnya dengan jalan kaki karena jarak dari rumah Hae Rin kesekolah hanya berkisar 2 km. Tapi, saat hendak menyeberang jalan ada sebuah mobil merah yang melaju kencang yang sepertinya berusaha untuk menabrak Hae Rin.
Seung Hyun yang menyadari hal itu berniat untuk menolongnya. “AWAAASSS!!!” teriak Seung Hyun sembari berlari untuk menyelamatkan Hae Rin. Hae Rin berhasil diselamatkan, tetapi dirinyalah yang menjadi korban. Tubuhnya penuh dengan darah, Hae RIn yang panik langsung memanggil ambulans dan mengantarnya ke rumah sakit. Sedangkan mobil yang menabrak tadi melarikan diri dan tidak diketahui pemiliknya.
~~@Changnam Hospital~~
Seung Hyun langsung dibawa ke ruang UGD, dokter mengatakan Seung Hyun perlu dioperasi dan luka yang dialaminya cukup parah. Hae Rin duduk menunggu di sebuah bangku yang ada didekat sana. 27 menit kemudian seorang suster keluar dari ruangan tersebut dan berkata padanya “Pasien kehilangan banyak darah. Dan juga persediaan suplai darah yang golongannya sama seperti pasien sedang kosong. Kami memerlukan darah itu segera. “ Suster itu mengoceh panjang lebar(tinggi, dan jadilah rumus volume balok)
Golongan darah saya B, sus. Anda bisa memberikan darah saya kepadanya.”
“Baiklah, ayo ikut saya.” Kemudian darah Hae Rin diambil. Setelah itu suster kembali ke ruang Seung Hyun yang masih dioperasi. Empat jam kemudian dokter bersama anak buahnya keluar. Salah seorang dari dokter itu menghampiri Hae Rin.
“Masa kritis pasien sudah terlewati. Saya akan menghubungi orang tua dari pasien. “
“Apa saya bisa melihatnya sekarang, dok?”
“Ne, Saya pergi dulu. Annyeonghaseyo”
“Annyeonghaseyo” setelah mengucapkan kata itu, Hae Rin langsung masuk ke ruang tersebut. Disana terlihat tubuh Seung Hyun yang terpasang dengan berbagai macam alat yang seakan-akan adalah penopang hidupnya.
“Yaa!! Kau orang idiot!! Ayo bangun!!” ucap Hae Rin tepat di kuping Seung Hyun. Hae Rin tidak kuasa menahan air matanya melihat keadaan Seung Hyun.
“Heii, orang idiot! Ayo bangun, apa kau tidak mau menggangguku lagi? Atau kau tidak akan bangun kecuali aku memanggil namamu?” Hae Rin masih menggumam tidak jelas dengan suara serak. Dia terus berada disamping Seung Hyun. Untung saja ini hari Sabtu, jadi dia tidak perlu sekolah besok. Dia akan tetap menjaga Seung Hyun disini. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10.27 pm. Tapi, keluarga Seung Hyun belum juga kemari sejak 6 jam 43 menit yang lalu.
Entah kenapa, Hae Rin mencemaskan keadaan Seung Hyun. Apa mungkin karena Seung Hyun yang menyelamatkannya? Atau karena ada alasan lain yang ia sendiri tidak mengetahuinya.
“Choi Seung Hyun, Ironaa!! Nah apa kau dengar? Aku sudah mengucapkan namamu dengan baik dan benar. Jadi kuharap kau cepat bangun!!” Hae Rin menggenggam tangan Seung Hyun yang terasa dingin, dia juga bingung mengapa tiba-tiba dia melakukan hal tersebut kepada orang yang dibencinya.
Hae Rin merasa ngantuk lalu membaringkan kepalanya disamping tubuh Seung Hyun. Dan dia pun terlelap.
*****
Hae Rin merasa sesuatu bergerak-gerak diatas kepalanya, lalu dia terbangun dan mendapati Seung Hyun tengah membelai lembut kepalanya sambil tersenyum.
“Yaa!! Orang idiot, kau sudah bangun rupanya.”
“Tidak bisakah kau berhenti memanggilku orang idiot?”
“Tentu saja tidak. Karena kau memang idiot!!”
“Bisakah kau memanggilku dengan sebutan oppa, jagii-ku?”
“Hah? Apa katamu? Oppa? Jagi-mu? Hahaha. Yang benar saja? Apa kau sudah gila?”
“Iya jagii-ku. Aku memang sudah gila karena mu. Apa kau tahu Aku mencintaimu? Hae Rin-ah, saranghae.” Hae Rin terdiam mendengar pengakuan dari Seung Hyun. Yang benar saja? Orang yang selama ini sangat dibencinya dan menjadi musuh besarnya tiba-tiba saja mengatakan cinta padanya?
“Hahahahaha.. Hebat sekali leluconmu. Kupikir kau berbakat untuk akting. Dasar kau idi__”
“CUP” Seung Hyun mencium bibir Hae Rin lembut untuk menghentikan ocehannya, lalu tersenyum. Hae Rin kaget dengan apa yang barusan terjadi.
“Yaa!! Kau benar-benar idiot!! Kau pikir kau siapa, sembarangan menciumku, hah?”
“Aku adalah Choi Seung Hyun, orang yang paling kau benci tapi mencintaimu. Maukah kau menjadi yeoja chingu-ku, Choi Hae Rin?” Seung Hyun mengucapkannya dengan nada serius dan tatapan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. *author bingung kyak pa menggambarkan tatapan TOP*
Hae Rin membeku, tak dapat berkata-kata. Seolah terhipnotis dengan perkataan dan tatapan Seung Hyun dia mengangguk.
“Hae Rin, Saranghae.”
“Hah, apa? Apa yang terjadi? Kau bilang ap__”
Lagi-lagi Seung Hyun mencium bibir Hae Rin lama dan dengan penuh perasaan, tapi Hae Rin tidak menolak dia membalas ciuman tersebut.
*****
Yun Mi, Taeyang, dan Minho pergi kerumah sakit bersama-sama pagi itu (hah? Mang sudah jam besuk ya? Ah, biarin, sekali lagi saya tekankan Apa pun yang terjadi, semua berdasarkan hak sang Author .hehehe) Mereka memutuskan untuk kerumah sakit setelah mendapat telpon dari Hae Rin semalam. Mereka langsung menuju ke ruang yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Hae Rin lewat telpon. Mereka memutuskan untuk menjenguknya pagi ini karena ingin memberi kejutan. Sesampainya didepan pintu kamar, tanpa basa-basi mereka langsung membuka pintu itu dan melihat suatu adegan yang tidak layak dilihat oleh anak berusia dibawah 10 tahun (lho? Bukannya dibawah 17 tahun ya? Tak apalah, kan sudah saya bilang Apa pun yang terjadi, semua berdasarkan hak sang Author. Hoho*memang enak jadi author*)
“HUAAAAAAAAaaaaAAAaaaaaaAA
**********THE END**********
Closing
Eottoke?
Mian yha kalo kpnjangan. hehehe
Jangan lupa pesan saya pada WARNING yg ke4 yang berbunyi: Karena saya sudah bilang NO SILENT READERS, artinya anda harus membaca, meng- like, dan mengomentarin ff ini.
Annyeong!
Wassalamu ‘alaikum wr. wb








